“Nanti juga bisa.” begitu kalimat yang paling sering diucapkan bapa dulu waktu masih kecil.
Kalimat itu akan terus diulang bapa kalau kami masih membandel. Dan biasanya itu pas kami menonton satu acara di tivi. Melekat mata kami seperti tak mau lepas. Padahal sudah masuk waktu belajar di malam hari. Masa itu, kesal sekali hati kami. Pastilah ya, apalagi itu film bagus, dan kami pikir nanti-nanti tidak akan tayang lagi. Dan waktu itu kami memang yakin, kalau film itu tidak akan tayang lagi.
“Dikira bapa kita bodoh kali ya, mana mungkin film bagus ini akan tayang lagi beberapa tahun ke depan.”
Bertahun-tahun kami meyakini apa yang ada dalam pikiran kami. Sampai kepada hal bersenang-senang pun, kalimat itu sering dilontarkan bapa.
“Nanti juga bisa senang-senang itu. Yang penting sekarang, tugas kalian belajar, belajar, belajar! Tidak usah mikir macam-macam.”
“Nanti juga bisa pacaran itu, yang penting sekarang, tugas kalian belajar, belajar, belajar!”
“Nanti juga bisa …. nanti juga bisa …..” Sampai bosan kami mendengarnya. Sudah pasti kami tirukan kalimat yang sama jika bapa sudah mulai mengulangi kalimat ini. Benar-benar bosan.
Continue reading →